
Dari ruang kelas mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kembali menunjukkan bahwa kreativitas mereka jauh melampaui aktivitas akademik. Melalui wadah seni teater Labu, mereka sukses menampilkan kemampuan akting yang mengesankan dalam sebuah festival teater ternama "Tuban Creative Fest, Sub Sektor Seni Pertunjukkan Festival Teater Tuban Tahun 2025".
Dalam ajang yang mempertemukan banyak kelompok teater berbakat tersebut, Teater Labu hadir dengan performa penuh semangat, penghayatan mendalam, serta ekspresi yang kuat. Teater Labu pada tanggal 19 November 2025 menampilkan judul "WIWIT". Penulis naskah tersebut adalah Bapak Suantoko, M.Pd. Ritual wiwit merupakan sebuah ritual yang dilakukan petani untuk menghormati pengemong dari menanam padi hingga musim panen. Ritual wiwit juga mengawinkan Dewi Sri sang Dewi Padi dengan Pangeran Sedana. Ritual wiwit mengisyaratkan bahwa satu kata keluar dari mulut petani berarti satu genggam padi menghilang dan itu akan menjadi jatah siluman yang mengintai dibelakang prosesi perkawinan Dewi Sri. Teater tersebut mengajarkan kepada kita bahwa berbicara jika diperlukan, dan jangan asal berbicara, senantiasa menjaga lisan agar mendapatkan keselamatan. Diam adalah emas seperti padi yang telah menguning.
Di tengah kompetisi yang begitu ketat, salah satu anggota teater Labu berhasil menarik perhatian juri berkat penampilannya. Momen membanggakan tercipta ketika teater Labu dinobatkan sebagai peraih kategori "Aktor Pembantu Terbaik Tahun 2025". Penghargaan ini tidak hanya menjadi bukti atas usaha dan dedikasi sang aktor, tetapi juga menegaskan bahwa kerja sama dalam tim dan semangat berkesenian mampu membawa mahasiswa Unirow Tuban mencapai prestasi gemilang. Prestasi ini menjadi penyemangat baru bagi Teater Labu serta seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unirow Tuban untuk terus mengembangkan bakat, mempertajam kemampuan, dan membuktikan bahwa dari ruang kelas dapat terlahir talenta besar yang siap bersinar di atas panggung.
